RPTRA Kampung Perigi

Beberapa pekan yang lalu, istri saya menceritakan tentang keberadaan RPTRA dengan penuh semangat. Apa RPTRA itu? Saya pun tidak tahu sebelumnya. Yang jelas, di RPTRA itu ada perpustakaan yang bisa diakses oleh umum. Kalau saya sih membanyangkannya semacam taman-taman di bandung yang memiliki instalasi seperti warung namun berisikan buku. Dan ternyata kenyataannya tidak seperti yang saya bayangkan. Jadi, apa dan bagaimana bentuknya RPTRA itu?

Setelah sekian lama menjanjikan bermain ke RPTRA bersama kakak, akhirnya janji saya penuhi sekaligus dalam rangka ngabuburit di akhir pekan. Setelah menyiapkan sepedanya untuk menuju RPTRA, kami pun berangkat sekitar pukul 16.00, ba’da ashar. Dengan absennya kami di rumah, memberikan waktu yang cukup untuk bunda menyiapkan menu berbuka, ditambah dengan tak adanya gangguan dari si kakak.

Bermodalkan koordinat di peta google dan petunjuk dari sang bunda, kami menyusuri tepi jalan yang hanya muat dua mobil itu. Untungnya istri saya sudah pernah ke RPTRA itu sebelumnya, kami diarahkan melalui gang kecil dengan jarak tempuh yang lebih singkat. Sempat saya ragu untuk menentukan arah di gang kecil yang kami lewati, untungnya ada beberapa ibu-ibu yang sedang berbincang, atas petunjuk mereka, langkah kami pun semakin pasti menuju RPTRA. Tak sampai lima menit kemudian, kami pun sampai di lokasi.

RPTRA Kampoeng Perigi namanya, sebuah ruang terbuka di daerah kampung perigi ini bisa menjadi tempat pelepas penat dari aktivitas ibu kota yang menjemukan. Meski berlokasi persis berdampingan dengan Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, tak membuat warga sekitar enggan untuk beraktivitas di RPTRA ini. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga manula, terlihat datang dan pergi di ruang publik yang diresmikan semasa kepemimpinan Pakde Jokowi. Meluangkan waktu sejenak untuk bermain, mengasuh anak, atau sekadar mencari angin segar.

Saat kami tiba di lokasi, sekitar 5 – 10 orang anak-anak lengkap dengan baju koko dan jilbabnya tengah asyik memainkan seluruh wahana yang tersedia. Kristal pun bingung karena mungkin terlalu takut dan malu menyuruh mereka untuk bergantian. Saya pun berinisiatif untuk mengajak Kristal untuk berkeliling dahulu sembari menunggu wahana yang tersedia bisa dimainkan.

Di sudut lokasi terdapat kolam yang tidak terlalu besar, hanya sekitar 2 x 2 meter saja luas permukaannya. “Ay ay, ikan”, Ucap Kristal singkat setelah melihat pergerakan ikan yang muncul ke permukaan. Airnya yang gelap kehitaman sempat menyulitkan kami untuk mengetahui apakah ini kolam ikan atau hanya sekadar pembuangan air.

RPTRA ini tergolong sederhana, satu bangunan utama yang memiliki perpustakaan, beberapa ruang pegurus dan teras serbaguna, ditambah lapangan bulutangkis dan beberapa wahana permainan anak. Tak puas hanya melihat kolam ikan mini tersebut, kami pun beralih ke objek lainnya di RPTRA kampoeng perigi ini. Kali ini kami menyusuri paving block hingga sampai lah ke suatu instalasi hidroponik. Menarik sekali ada yang mempraktekkan teknik bercocok tanam dengan hidroponik di RPTRA ini.Meski terlihat sederhana, bercocok tanam dengan hidroponik harus disertai dengan niat sungguh-sungguh karena tidak mudah membuat instalasinya, dibutuhkan kemampuan pertukangan yang handal.

RPTRA Kampung Perigi - Hidroponik - RifqiAbidin

“Ay ay, ayunan Ay ay…”, Kristal terus memanggil saya meski saya tengah asyik mengambil gambar panorama dengan kamera ponsel. Setelah selesai mengambil gambar, saya langsung mengampirinya menuju ayunan. Syukurnya guru mengaji mereka lewat, spontan mereka pun mengosongkan wahana permainan untuk bergegas ke mushola. Ayunan, menjadi wahana pertama yang dia jajaki. Menariknya, si kakak tidak mau dipegangi ketika sudah duduk di ayunan. Wow, suatu kemajuan yang luar biasa. Meski sempat khawatir pada awalnya.

RPTRA Kampung Perigi - Main Ayunan - RifqiAbidin

Tertarik melihat seorang anak yang lebih dewasa darinya bermain panjat dinding dan perosotan, Kristal pun tertarik untuk mencoba. Dengan bantuan dan arahan dari saya, dia menggenggam dan menempatkan kakinya pada pijakan-pijakan yang tersedia. Dia sangat puas ketika berhasil memanjat. Terlebih perosotan bisa ia coba juga usai menyelesaikan wahana panjat dinding. Satu hal yang tak berubah dari kristal, ia masih jijik dengan pasir dan tanah. Karena dasar perosotannya adalah pasir, sementara ia tidak ingin menginjakkan kakinya di pasir, jadilah saya yang harus siap menangkapnya di dasar perosotan atas komandonya.

RPTRA Kampung Perigi - Manjat Anak Tangga - RifqiAbidin

Tak berhenti sampai di situ, masih tersisa satu wahana yang masih belum ia coba, jungkat-jungkit. Sempat bingung dengan keamanannya, saya pun teringat dengan konsep fisika sederhana, torsi. Saya menempatkan diri dekat pusat rotasi sehingga besar torsi yang saya berikan bisa saya kontrol dengan mudahnya. Bermain jungkat-jungkit pun menjadi sangat menyenangkan bagi si Kakak dan tanpa rasa khawatir bagi si Ayah.

RPTRA Kampung Perigi - Jungkat-Jungkit - RifqiAbidin

Seketika beberapa anak berlari menuju RPTRA dari salah satu gang. “Awaaaas ada ondel-ondel…!!”, teriak salah seorang bocah. Alih-alih ikut kabur dan bersembunyi, kristal justru teringat pada selembar uang lima ribu perak yang awalnya diniatkan untuk membeli penganan berbuka. “Ay, ay, mau kasih odel-odel..”, ucapnya polos sambil berusaha merogoh saku celana saya. Ada-ada saja tingkah anak ini.

Senja kala itu sangat indah dengan cahaya kuning keemasan di ufuk barat, ditambah semilir angin berhembus pelan. Senja yang sangat bersahabat, seakan mempersilakan kami untuk menghabiskan waktu bersama.

Ponsel di saku saya bergetar, ternyata ada panggilan dari si bunda. Benar saja dugaan saya, ketika saya telpon balik, Bunda sudah menyuruh kami untuk pulang ke rumah sebelum adzan maghrib berkumandang. Lagi-lagi ada satu tingkah si Kakak yang membuat saya tersenyum simpul. Ketika kami hendak pulang, kami mendapati ada sampah plastik di jalan taman, si Kakak pun bersikukuh ingin membuangnya ke tempat sampah. Saya pun mengiyakannya dengan syarat harus mencuci tangan setelah membuang sampah. Memang saya dan si bunda sudah membiasakan kakak untuk rajin membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, sekecil apapun sampahnya. Kami percaya ini merupakan satu ikhtiar kecil yang berdampak besar, insya Allah.

RPTRA Kampung Perigi - Ayunan Kosong - RifqiAbidin

Bermain dan bercengkrama bersama orang tercinta merupakan satu kebutuhan tersendiri. Terlebih dengan adanya fasilitas umum seperti RPTRA yang bisa menjadi tempat pelepas penat. Bagaimana dengan kamu? Apakah ada tempat seperti ini di sekitar tempat tinggalmu? Yuk berbagi dengan meninggalkan pesan di kolom komentar.

Advertisements

Published by

Rifqi

Adventurer, Digital Nomad, Startup Enthusiast, Reader, Future Material Scientist

Apa komentarmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s