Kisah Seekor Ulat

Hari kemarin ketika saya tengah mengajak main Kristal ke rumah buyutnya, kebetulan saat ini tempat tinggal buyutnya hanya berselang satu rumah dari tempat kami tinggal, saya menemukan seekor ulat hijau gendut di pohon jeruk. Sontak saya tunjukkan ke Kristal yang masih berada di gendongan saya.

“Tuh kak ulat hijau, nanti bisa berubah jadi kupu-kupu”

Kristal terdiam, memerhatikan ulat dengna baik, sepertinya masih mencerna maksud saya. Meskipun dia sudah paham dan senang betul dengan yang namanya kupu-kupu, saya rasa konsep metamorfosis ini masih terlalu dini untuk dikenalkan ke anak berusia 21 bulan.

Memori masa kecil saya muncul tiba-tiba. Sudah menjadi kebiasaan saya sedari kecil untuk memelihara berbagai hewan peliharaan yang aneh, lucu nan menggemaskan. Bukan kucing, anjing atau burung dara sebagaimana yang biasa dipelihara anak-anak pada umumnya. Mungkin untuk bahasan hewan peliharaan saya semasa kecil akan saya tuliskan di kesempatan lainnya. Singkat cerita, saya suka memelihara hewan-hewan yang tak lazim untuk dijadikan hewan peliharaan.

Langsung saja saya petik setangkai daun jeruk itu, tempat si ulat singgah. Membawanya ke rumah sambl menggendong Kristal yang tak melepaskan pandangannya dari si ulat. Kristal pun kegirangan setengah jijik melihat si ulat yang montok tengah asyik melahap daun jeruk yang masih segar.

“Yuk minta toples sama bunda, buat ulatnya.”

“Yuk, (m)inta (b)unda.”

Akhirnya sebuah toples bening berhasil didapatkan. Tak lupa kassa dari kotak P3K dan beberapa karet saya ambil untuk menutup bagian atas toples. Saya juga berusaha mengingatkannya tentang episode upin&ipin tentang hewan peliharaan.

“Yuk ambil daunnya lagi kak, buat makan ulatnya.”

Sungguh menyenangkan melihat si ulat dengan lahapnya menyantap daun jeruk yang kami petik dari pot di halaman rumah.

Hari berganti hari. Sampai suatu pagi, Voila! Si ulat sudah menjelma menjadi kepompong dengan penampakan persis seperti metapod di pokemon. Bukan hanya kristal, saya pun terkagum-kagum melihatnya dengan mata sendiri. Tak heran kenapa bebera hari terakhir si ulat lahap sekali menyantap makanannya, terlihat dari jumlah feses yang dihasilkannya. Hahaha. Karena selama menjadi kepompong, tidak mungkin si ulat beristirahat sejenak untuk melahap daun yang tersisa.

Melihat kepompong memang tidak terlalu menarik, dengan sedikit kesabaran, setidaknya dalam rentang waktu sekitar 10 hari, sang kepompong berhasil menyelesaikan pertapaannya. Seekor kupu-kupu cantik telah muncul di dalam toples. Namun butuh sedikit waktu lagi agar ia terbiasa dengan sayap barunya.

Menjadi individu yang lebih baik tentunya butuh kesabaran dan dukungan dari lingkungan. Sebisa mungkin, cari lingkungan yang mendukung kamu untuk terus menjadi lebih baik.

Advertisements

Published by

Rifqi

Adventurer, Digital Nomad, Startup Enthusiast, Reader, Future Material Scientist

2 thoughts on “Kisah Seekor Ulat”

Apa komentarmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s